SMP Negeri 2 Probolinggo terus berkomitmen menghadirkan pembelajaran yang bermakna (meaningfull), berkesadaran (mindfull) dan menggembirakan (joyfull) bagi seluruh murid. Salah satunya melalui kegiatan kokurikuler kelas 9 bertema “Kearifan Lokal di Mata Gen-Z” yang resmi dimulai pada pekan ini.
Kegiatan ini dirancang tidak hanya untuk menambah wawasan murid tentang budaya lokal, tetapi juga untuk mengembangkan berbagai dimensi Profil Lulusan, yakni kewargaan, bernalar kritis, kolaborasi, kreativitas, dan komunikasi.
Menghubungkan Kearifan Lokal dengan Dunia Gen-Z
Di tengah derasnya arus budaya global dan digitalisasi, generasi muda kerap lebih akrab dengan tren internasional dibanding budaya daerahnya sendiri. Melalui proyek ini, murid diajak untuk menggali, mendokumentasikan, sekaligus memaknai kembali kearifan lokal sebagai identitas dan kekuatan bangsa.
Tahapan kegiatan dimulai dengan orientasi proyek, di mana murid mempelajari latar belakang pentingnya menjaga budaya lokal di era global. Selanjutnya, mereka dilatih melakukan riset sederhana dengan menyusun perencanaan wawancara bersama pelaku UMKM kuliner di Probolinggo, salah satu wujud nyata kearifan lokal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.



Tidak berhenti di situ, murid kemudian turun langsung ke lapangan untuk mewawancarai masyarakat dan pelaku UMKM. Momen inilah yang menjadi pengalaman belajar paling bermakna. Murid tidak hanya menerima informasi dari buku atau kelas, tetapi berinteraksi langsung dengan narasumber, mendengar kisah perjalanan usaha, nilai-nilai tradisi, hingga filosofi yang terkandung dalam produk kuliner lokal.
Salah satu murid kelas 9, menyampaikan kesannya:
“Saya baru tahu kalau makanan tradisional yang sering kami makan ternyata punya sejarah panjang dan filosofi. Rasanya berbeda ketika saya mendengarnya langsung dari pemilik usaha. Jadi lebih menghargai, dan saya ingin ikut melestarikannya.”
Murid lain menambahkan:
“Turun ke lapangan membuat saya merasa belajar itu nyata. Saya tidak hanya mencari data, tapi juga mendengar perjuangan orang-orang menjaga tradisi. Itu membuat saya sadar bahwa kearifan lokal bukan sekadar masa lalu, tapi bisa jadi inspirasi masa depan.”
Pengalaman lapangan ini memberi arti bahwa belajar bukan sekadar mengumpulkan data, melainkan juga menghubungkan hati, pikiran, dan keterampilan untuk memahami budaya.
Kolaborasi dan Kemitraan
Proyek ini melibatkan lingkungan dan masyarakat sekitar sebagai sumber inspirasi, serta pelaku UMKM daerah sebagai narasumber utama. Melalui kolaborasi lintas mata pelajaran, murid dilatih untuk melihat persoalan dari berbagai sudut pandang, sekaligus menghasilkan karya yang lebih original, relevan, dan berkesan mendalam.
Tujuan dan Harapan
Melalui kegiatan ini, murid diharapkan:
- Mampu menggali dan mendokumentasikan kearifan lokal di sekitarnya.
- Menganalisis relevansi kearifan lokal dalam menghadapi tantangan global.
- Menghasilkan karya inovatif untuk mempromosikan kearifan lokal agar lebih menarik bagi generasi muda.
- Memiliki kesadaran akan pentingnya melestarikan budaya daerah.




Kepala SMP Negeri 2 Probolinggo menyampaikan bahwa kegiatan kokurikuler ini menjadi sarana penting untuk menumbuhkan kebanggaan murid terhadap budaya lokal sekaligus melatih mereka menghadapi tantangan global. “Ketika murid terjun langsung ke masyarakat, mereka tidak hanya belajar, tetapi juga merasakan, memahami, dan menghargai nilai budaya itu sendiri. Pengalaman seperti ini akan menjadi pembelajaran bermakna yang membekas sepanjang hayat,” ujarnya.
Melalui pembelajaran berbasis proyek yang mendalam, sekolah berharap murid dapat tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cakap berteknologi dan terbuka pada budaya global, tetapi juga berakar kuat pada nilai-nilai lokal sebagai identitas bangsa.


Tinggalkan Balasan